SUPERVISI PENDIDIKAN

I         LATAR BELAKANG PERLUNYA SUPERVISI

Guru sebagai salah satu sumber daya dalam pembangunan pendidikan merupakan penentu keberhasilan pendidikan itu sendiri. Dengan demikian maka guru dituntut untuk selalu berupaya meningkatkan kinerjanya. Guru harus profesional. Pada tataran institusional dan eksperiensial, upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek “guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional.

Minimal terdapat dua hal yang menunjukkan bahwa sangat penting guru itu selalu mengembangkan dirinya. Pertama bahwa dengan arus informasi yang sangat cepat pada jaman globalisasi ini maka guru dituntut untuk selalu memperbaiki diri, mengembangkan diri dengan menambah informasi yang baru serta ilmu pengetahuan yang baru tentang apa yang diajarkan sehingaa dengan demikian guru bisa memberikan ilmu dan pengetahuan dengan cara yang menyegarkan anak didik.

Kedua, setiap guru perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan pengembangan profesi merupakan suatu keharusan untuk menghasilkan output pendidikan berkualitas. Itulah sebabnya guru perlu belajar terus menerus, membaca informasi terbaru dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam pembelajaran agar suasana belajar mengajar menggairahkan dan menyenangkan baik bagi guru apalagi bagi peserta didik.

Peningkatan sumber daya guru bisa dilaksanakan dengan bantuan supervisor, yaitu orang ataupun instansi yang melaksanakan kegiatan supervisi terhadap guru. Perlunya bantuan supervisi terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan masyarakat. Swearingen (dalam Wahidin , 2009) mengungkapkan latar belakang perlunya supervisi berakar mendalam dalam kebutuhan masyarakat dengan latar belakang sebagai berikut :

  1. Filosofis

Suatu system pendidikan yang berhasil guna dan berdaya guna bila ia berakar mendalam pada nilai-nilai filosofis pandangan hidup suatu bangsa.

  1. Psikologi

Secara psikologis supervisi itu berakar mendalam pada pengalaman manusia. Tugas supervisi ialah menciptakan suasana sekolah yang penuh kehangatan sehingga setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri.

  1. Kultural

Pendidikan berakar dari budaya arif lokal setempat. Sejak dini pengalaman belajar dan kegiatan belajar-mengajar harus daingkat dari isi kebudayaan yang hidup di masyarakat itu. Sekolah bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

 

  1. Sosial

Seorang supervisor dalam melakukan tanggung jawabnya harus mampu mengembangkan potensi kreativitas dari orang yang dibina melalui cara mengikutsertakan orang lain untuk berpartisipasi bersama. Supervisi harus bersumber pada kondisi masyarakat.

 

  1. Sosiologis

Secara sosiologis perubahan masyarakat punya dampak terhadap tata nilai. Supervisor bertugas menukar ide dan pengalaman tentang mensikapi perubahan tata nilai dalam masyarakat secara arif dan bijaksana.

 

  1. Pertumbuhan jabatan

Supervisi bertugas memelihara, merawat dan menstimulasi pertumbuhan jabatan guru. Diharapkan guru menjadi semakin professional dalam mengemban amanat jabatannya dan dapat meningkatkan posisi tawar guru di masyarakat dan pemerintah, bahwa guru punya peranan utama dalam pembentukan harkat dan martabat manusia.

 

II      PENGERTIAN :

Supervisi merupakan salah satu strategi untuk memastikan bahwa seluruh langkah pada proses penyelenggaraan dan semua komponen hasil yang dicapai memenuhi target. Supervisi adalah strategi manajemen yang terdiri atas serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standar yang telah ditentukan.

Mengenai pengertian superv isi, Drs. N. A. Ametembun menyatakan bahwa secara morfologis, supervision berasal dari Bahasa Inggris dari kata super yang artinya atas dan vision artinya visi/lihat. Jadi supervisi berarti lihat dari atas. Sedang secara semantik supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.

Wiles secara singkat merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya menyangkut perbaikan proses belajar mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut : “ Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “.

Kimball Wiles (1967) menyatakan sebagai  berikut : “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi.

Ross L.(1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kepada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Dalam kenyataan, praktek supervisi selalu berubah seiring dengan tumbuhnya kesadaran para pemangku kepentingan untuk meningkatkan penjaminan mutu. Kesadaran akan pentingnya meningkatkan mutu terkait pada peran, fungsi, dan pembagian tugas dalam organisasi. Pelaksanaannya selalu terkait pada konsistensi lembaga, kegiatan akademik, profesionalisme, dan kesungguhan penyelenggara pendidikan akan pentingnya memastikan bahwa mutu yang diharapkan dapat terus terjaga sejak langkah perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauannya.

 

III   TUJUAN :

Tujuan dilakukannya supervisi pendidikan adalah :

  1. Meningkatkan mutu kinerja guru, dilakukan dengan cara:
    1. Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut;
    2. Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya;
    3. Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya;
    4. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa;
    5. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran;
    6. Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran;
    7. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
  2. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik 
  3. Meningkatkan keefektifan dan efisiensi sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa 
  4. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.  
  5. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.  

Target puncak supervisi adalah berkembangnya proses perbaikan mutu secara berkelanjutan. Meningkatnya kebiasaan melaksanakan tugas  sejak awal dengan mutu yang  terukur, membiasakan tiap tahap pekerjaan jelas pula mutunya. Meningkatnya kejelasan pengaruh pelaksanaan tugas profesi terhadap hasil belajar siswa. Pada akhirnya supervisi menumbuhkan budaya mutu karena mutu itu adalah budaya yang selalu menjujung terget yang tinggi pada tiap langkah kegiatan.

 

IV   PRINSIP

Mengenai prinsip-prinsip supervisi, Sahertian (2000:20) membagi supervisi dalam empat prinsip, yaitu: (1) Prinsip ilmiah (scientific); (2) Prinsip demokratis; (3) Prinsip kerja sama; (4) Prinsip konstruktif dan kreatif

Di sisi lain Depdiknas (2000:132) turut serta menyatakan bahwa ada enam prinsip dalam supervisi yaitu:

(1)     Hubungan konsultatif, kolegial

(2)     Demokratis

(3)     Terpusat pada guru

(4)     Didasarkan pada kebutuhan guru

(5)     Umpan balik

(6)     Bersifat bantuan profesional

 

Dari kedua pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa pelaksanaan supervisi harus memegang prinsip yaitu: (1) demokratis; (2) ilmiah; (3) kerja sama; (4) konstruktif; (5) terpusat pada guru; (6) didasarkan atas kebutuhan guru; (7) sebagai umpan balik; (8) profesional. Berikut ini penulis uraikan satu persatu mengenai prinsip-prinsip supervisi tersebut.

1.  Demokratis

Sahertian (2000:20) mengemukakan bahwa “Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan dan bawahan, tapi berdasarkan rasa kesejawatan.” Dengan kata lain bahwa servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.

Di sisi lain Arikunto (2004:20) berpendapat bahwa dalam mengembangkan suasana demokratis hendaknya supervisi yang dijalankan berlangsung dengan adanya hubungan yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi. Dengan sebutan lain bahwa dalam pelaksanaannya supervisi dapat tercipta suasana kemitraan yang akrab. Dengan terciptanya suasana akrab tersebut pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki. Sebagai kelanjutan dari suasana akrab ini adalah hubungan kerja sama yang baik dan berlanjut dengan kerja sama yang kompak.

Prinsip demokratis ini juga diungkapkan oleh Lazaruth (1988:41) sebagai berikut: “Usaha pengembangan mutu sekolah adalah usaha bersama yang berdasarkan musyawarah, mufakat, dan gotong royong. Baik kepala sekolah, guru-guru maupun karyawan yang lain bersama-sama saling menyumbang sesuai dengan fungsinya masing-masing.”

Dari pendapat di atas mengandung suatu pengertian bahwa perbaikan tidak mungkin terjadi dengan paksaan dari atas terlepas dari kemauan dan keinginan guru-guru. Oleh karena itu, sebelum pertolongan diberikan, kepala sekolah harus membangkitkan terlebih dahulu motivasi pada guru-guru sehingga mereka sadar sepenuhnya akan pentingnya perbaikan. Hal ini hanya dapat berlangsung apabila kepala sekolah menempatkan dirinya sebagai partner atau rekan kerja bagi guru-guru dengan kemampuan dan kewibawaannya untuk menolong mereka. Dengan kata lain supervisi harus dilaksanakan dalam suasana demokratis. Namun demikian supervisi ini juga mengandung pengertian bahwa hubungan antara kepala sekolah dan guru-guru tetap bersifat fungsional. Artinya dalam proses supervisi ini hubungan kepala sekolah dan guru-guru tetap dan harus didasarkan pada tempat dan fungsinya masing-masing.

 

2. Ilmiah

Menurut Sahertian (2000:20), prinsip ilmiah (scientifc) ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
  2. Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
  3. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinyu.

 

Prinsip ilmiah mengandung suatu pengertian bahwa pelaksanaan supervisi harus bersifat realistis. Lazaruth (1988:41) mengemukakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak boleh muluk-muluk, tetapi harus didasarkan atas kenyataan yang sebenarnya, yaitu pada keadaan guru-guru. Karena itu kepala sekolah tidak boleh merencanakan hal-hal yang belum mampu dipahami serta dilakukan oleh para guru.

Sebelum kepala sekolah melakukan kegiatan supervisi ia harus tahu terlebih dahulu sampai pada tingkat mana pengetahuan, keterampilan serta sikap-sikap yang dimiliki oleh guru-guru yang disupervisinya. Jika demikian kepala sekolah akan tahu pertolongan-pertolongan apa yang harus diberikan, sehingga kegiatan supervisi menjadi realistis.

Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Arikunto (2004:21) bahwa supervisi hendaknya didasarkan pada keadaan dan kenyataan yang sesuai dengan sebenar-benarnya terjadi sehingga kegiatan supervisi dapat terlaksana dengan realistis dan mudah dilaksanakan.

 

3. Kerja Sama

Menurut Sahertian (2000:20), prinsip kerja sama mengandung suatu pengertian bahwa apa yang dilakukan dalam kegiatan supervisi merupakan untuk mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi ‘sharing of idea, sharing of experience’, memberi supprot, mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

 

4. Konstruktif

Lazaruth (1988:40) mengatakan bahwa kegiatan supervisi yang berfungsi konstruktif maksudnya adalah “kegiatan yang dilakukan untuk menolong guru-guru agar mereka senantiasa bertumbuh, agar mereka semakin mampu menolong dirinya sendiri, dan tidak tergantung kepada kepala sekolah.”  Prinsip ini hanya dapat dicapai apabila kepala sekolah mampu menunjukkan segi-segi positif atau kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh guru-guru, sehingga mereka memperoleh kepuasan dalam bekerja. Kepuasan kerja ini akan memberi semangat pada mereka untuk terus-menerus berusaha mengembangkan diri. Justru karena itu pertolongan harus diberikan sedemikian rupa sehingga akhirnya guru-guru mampu menolong dirinya sendiri, dan menjadi semakin kreatif.

Arikunto (2004:21) menambahkan: “Supervisi yang bersifat konstruktif bahwa seyogyanya dari para supervisor dapat memberikan motivasi kepada pihak-pihak yang disupervisi sehingga tumbuh dorongan atau motivasi untuk bekerja lebih giat dan mencapai hasil yang lebih baik.”

 

5. Terpusat pada Guru

Pelaksanaan supervisi yang terpusat pada guru merupakan sasaran pokok yang terdapat dalam kegiatan tersebut. Menurut Arikunto (2004:33), “Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada personil sekolah pada umumnya dan khususnya guru, agar kualitas pembelajaran dapat meningkat.”

Sebagai dampak dalam meningkatnya kualitas pembelajaran, diharapkan dapat  pula meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan meningkatnya prestasi belajar siswa berarti meningkat pula kualitas lulusan sekolah itu.

 

6. Didasarkan atas Kebutuhan Guru

Prinsip ini mengandung suatu penekanan bahwa kegiatan supervisi yang akan dilakukan didasarkan atas kebutuhan guru. Kebutuhan guru di sini berkaitan erat dengan beberapa keperluan yang harus dipenuhi guru dalam proses pembelajaran. Misalnya guru yang mengajar tanpa dilengkapi dengan alat peraga. Kenyataan ini menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Untuk supervisor bisa memberi bantuan kepada guru bagaimana cara membuat dan menggunakan alat peraga agar proses pembelajaran lebih efektif.

 

7. Sebagai Umpan Balik

Apabila pengawas atau kepala sekolah merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaliknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Jika jarak antara kejadian dengan umpan balik sudah terlalu lama, pihak yang berbuat salah sudah tidak mampu lagi melihat hubungan antara keduanya.

Arikunto (2004:20) menegaskan bahwa dalam memberikan umpan balik sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Dengan demikian maka akan terjalin hubungan yang erat antara supervisor dengan yang disupervisi, dan pihak yang disupervisi akan menyadari kesalahan yang ditunjukkan dengan sukarela dan menerima sepenuhnya.

 

8.  Profesional

Menurut Soetjipto (1999:251), kata profesional menunjuk pada fungsi utama guru yang melaksanakan pengajaran secara profesioanl. Asumsi dasar ini berhubungan erat dengan tugas pofesi guru yaitu mengajar, maka sasaran supervisi juga harus mengarahkan pada hal-hal yang menyangkut tugas mengajar itu, yang terdapat di dalam bentuk praktiknya yang disebut pula dengan pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.

Ada  yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan adalah sebagai berikut :

  1. Prinsip-prinsip fundamental; Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang pancasilais sejati.
  2. Prinsip-prinsip praktis :
    1. Negatif  : Tidak otoriter, tidak berasas kekuasaan, tidak lepas dari tujuan pendidikan, bukan mencari kesalahan, tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil.
    2. Positif : konstruktif dan kreatif, sumber secara kolektif bukan supervisor sendiri, propessiona, sanggup mengembangkan potensi guru, memperhatikan kesejahteraanguru, progresif, memperhitungkan kesanggupan supervised, sederhana dan informal, obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri.

 

V         SASARAN

  1. Aspek yang disupervisi
    1. Administratif
      1. Bidang Akademik, mencakup kegiatan:

1).    menyusun program tahunan dan semester,

2).   mengatur jadwal pelajaran,

3).    mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pembelajaran,

4).    menentukan norma kenaikan kelas,

5).    menentukan norma penilaian,

6).    mengatur pelaksanaan evaluasi belajar,

7).    meningkatkan perbaikan mengajar,

8).    mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan

9).    mengatur disiplin dan tata tertib kelas.

 

  1. Bidang Kesiswaan, mencakup kegiatan:

1).   mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru,

2).   mengelola layanan bimbingan dan konseling,

3).   mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan

4).   mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakurikuler.

 

  1. Bidang Personalia, mencakup kegiatan:

1).    mengatur pembagian tugas guru,

2).    mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutasi guru,

3).    mengatur program kesejahteraan guru,

4).    mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan

5).    mencatat masalah atau keluhan-keluhan guru.

 

  1.  Bidang Keuangan, mencakup kegiatan:

1).   menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah,

2).   mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah,

3).   mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah, dan

4).   mempertanggungjawab-kan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 

  1. Bidang Sarana dan Prasarana, mencakup kegiatan:

1).   penyediaan dan seleksi buku pegangan guru,

2).   layanan perpustakaan dan laboratorium,

3).   penggunaan alat peraga,

4).   kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,

5).   keindahan dan kebersihan kelas, dan

6).   perbaikan kelengkapan kelas.

  1. Bidang Hubungan Masyarakat, mencakup kegiatan:

1).   kerjasama sekolah dengan orangtua siswa,

2).   kerjasama sekolah dengan Komite Sekolah,

3).   kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan

4).   kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar (Depdiknas 1997).

  1. Edukatif
    1. Penggunaan program semester
    2. Penggunaan rencana pembelajaran
    3. Penyusunan rencana harian
    4. Program dan pelaksanaan evaluasi
    5. Kumpulan soal
    6. Buku pekerjaan siswa
    7. Buku daftar nilai
    8. Buku analisis hasil evaluasi
    9. Buku program perbaikan dan pengayaan
    10. Buku program Bimbingan dan Konseling
    11. Buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler

 

  1. Yang melakukan supervisi
    1. Pengawas

Supervisi yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah kepada Kepala Sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan kinerja. Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh Pengawas Sekolah yang bertugas di suatu Gugus Sekolah. Gugus Sekolah adalah gabungan dari beberapa sekolah terdekat.

  1. Kepalas sekolah

Supervsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru Secara rutin dan terjadwal . Kepala Sekolah melaksanakan kegiatan supervisi kepada guru-guru dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar. Guru mendesain kegiatan pembelajaran dalam bentuk Rencana Pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru.

Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan lembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG),  APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.

  1. Yang disupervisi
    1. Kepala sekolah
    2. Guru
    3. Tenaga administrasi
    4. Siswa

 

V      TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI

  1. Metode Supervisi
  1. Metode langsung : alat yang digunakan mengenai sasaran supervise
  2. Metode tak langsung : mempergunakan berbagai alat perantara (media)
  1. Teknik Supervisi Pendidikan

1. Tekhnik kelompok : cara pelaksanaan supervise terhadap sekelompok orang yang disupervisi

2. Tekhnik perorangan : dilakukan terhadap individu yang memiliki masalah khusus.

  1. Teknik Dan Metode Yang Lain
  1. Kunjungan sekolah (school visit)

Akan memberikan pengatahuan yang lengkap tentang situasi sekolah sehingga program akan lebih efektif.

  1. Kunjungan kelas (class visit)

Merupakan suatu metode supervise yang “to the point” kena sasaran

  1. Pertemuan individual

Setelah suatu kunjungan berakhir, hendaklah diadakan pembicaraan langsung dan pribadi tentang hasil kunjungan dengan orang yang dikunjungi.

  1. Rapat sekolah

Untuk membicarakan kepentingan murid dan sekolah dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah

  1. Pendidikan ini service

Untuk kepentingan mutu mrngajar dan belajar, maka guru perlu mengembangkan pengetahuan sesuai dengan profesinya dengan berbagai cara. Misalnya : study individual, study grops, menghadiri ceramah, mengadakan intervisitasi dsb.

  1. Workshop (musyawarah kerja_muker)

Untuk mengembangkan professional karyawan (in-service)

  1. Intervisitas

Saling kunjung-memgunjungi sesama guru untuk mengobservasi situasi belajar masing-masing

  1. Demonstrasi mengajar

Metode ini dapat dilakukan oleh supervisor sendiri atau oleh guru yang ahli untuk memperkenalkan metode mengajar yang efektif.

  1. Bulletin supervisi

Bulletin berkala dapat dimanfaatkan untuk perbaikan program pendidikan dan penngajaran, bisa mingguan atau bulanan.

10.  Bulletin bord

- pengumuman administrative

- pengunguman supervise

- pengunguman untuk murid

- dsb

11.  Kunjungan rumah

Tujuannya untuk mempelajari bagaimana situasi hidup orang yang disupervisi di rumah terutama meneliti masalah-masalah yang secara langsung atau tak langsung mempengaruhi tugas/kewajiban orang yang disupervisi itu

 

I          KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

  1. Mutu pendidikan yang masih rendah
    1. Mutu guru yang berkaitan dengan pendidikan prajabatan dan seleksi, insentif yang diperolehnya, dan penyebaran guru yang tidak merata.

a        Rekomendasi-rekomendasi

Rekomendasi sampai sekarang ternyata masih terjadi dalam proses penerimaan (rekrutmen) guru di Indonesia. Rekomendasi biasanya diberikan oleh seseorang yang mempunyai pengaruh atau mempunyai jabatan, untuk keluarga atau siapa saja yang memintanya dengan imbalan atau tidak. Dengan rekomendasi menyebabkan seseorang yang mestinya tidak memenuhi syarat untuk diterima menjadi guru menjadi diterima. Ini berarti sudah menjadi andil menciptakan guru yang tidak berkualitas. Jika guru tidak berkualitas maka kemungkinan besar mutu pendidikannya juga tidak berkualitas.

b       Kesejahateraan

Kesejahteraan yang masih rendah menyebabkan seorang guru harus mencari tambahan penghasilan baru. Jika demikian maka guru tersebut sudah berkurang fokusnya menjadi seorang guru. Jika tidak fokus pada tugas pokoknya sebaai seorang guru maka akan berpengaruh pada mutu pembelajaran yang dilakukannya. Biasanya lebih rendah mutunya.

Anggaran pendidikan minimal 20 % harus dilaksanakan dan diperjuangkan untuk ditambah karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup suatu bangsa. Apabila tingkat kesejahteraan diperhatikan, konsentrasi guru dalam mengajar akan lebih banyak tercurah untuk siswa.

 

c        Pendidikan guru dan calon tenaga kependidikan.

Pendidikan guru dan calon tenaga pendidikan (guru) turut berpengaruh dalam menentukan kualitas pendidikan. Mutu lembaga yang mendidik guru dan calon tenaga pendidikan akan mewarnai guru yang dihasilkan, baik atau tidak baik. Apakah mutu pendidikan guru dan calon tenaga pendidikan di Indonesia sudah baik? Yang jelas masih perlu terus di benahi agar dapat menciptakan guru yang berkualitas tinggi.

Penataran dan pelatihan mutlak diperlukan demi meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kompetensi guru. Kegiatan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi hasilnya juga akan seimbang jika dilaksanakan secara baik. Jika kegiatan penataran, pelatihan dan pembekalan tidak dilakuakan, guru tidak akan mampu mengembangkan diri, tidak kreatif dan cenderung apa adanya. Kecenderungan ini ditambah dengan tidak adanya rangsangan dari pemerintah atau pejabat terkait terhadap profesi guru. Rangsangan itu dapat berupa penghargaan terhadap guru-guru yang berprestasi atau guru yang inovatif dalam proses belajar mengajar.

 

d       Seleksi, pengangkatan dan penempatan

Seleksi pengangkatan guru tampaknya masih harus terus diperbaiki sistemnya.

e        Pembinaan mutu guru melalui pendidikan dalam jabatan dan pelatihan-pelatihan

f        Pengembangan karier guru dan tenaga kependidikan

  1. Rendahnya penguasaan IT para pelaku pendidikan

Mengapa para pelaku pendidikan di Indonesia masih rendah? Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Dengan kesejahteraan yang rendah maka para pelaku pendidikan tidak mampu membeli perangkat IT, seperti komputer apalagi ditambah perangkat untuk mengakses internet. Karena tanpa memeliki komputer sendiri penguasaan IT tidak akan bisa berkembang dengan baik.

Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah.

Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT. Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah.

  1. Belum berkembangnya budaya belajar
  2. Profesionalisme dan tingkat kesejahteraan tenaga kependidikan belum sesuai
  3. Menurunnya status kesehatan dan gizi sebagian peserta didik sebagai dampak krisis ekonomi
  4. Gejala menurunnya moral dan budi pekerti.

 

VI   PROBLEMATIKA PROFESIONALISME GURU

  1. Mutu dan profesionalisme guru

Apakah mutu guru-guru Indonesia sudah sesuai harapan, yaitu standar tenaga pendidik ? Apakah mereka yang sudah lulus sertifikasi benar-benar bisa dijamin sudah profesional? Dua pertanyaan tersebut selalu menjadi bahan pembahasan yang menarik. Rupanya samapai asaat ini mutu guru-guru Indonesia masih dipertanyakan. Demikian profesionalisme guru, walaupun mereka sudah lulus sertifikasi namun profesionalisme mereka masih belum bisa dijamin.

  1. Kesejahteraan guru

Berapa sih gaji guru Indonesia? Cukupkah dengan gaji yang diterima sekarang ini? Nyatanya masih banyak guru-guru Indoensia yang mencari sumber penghasilan sampingan. Mereka sepulang mengajar ngojek, ngajar di sekolah lain, mengajar di lembaga bimbingan dan lain-lain. Itu semua dilakuakan tentu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini berarti gaji mereka masih belum cukup memenuhi kebutuhan.

  1. Penyebaran guru yang tidak merata.

Sampai saat ini penyebaran guru masih menajdi kedala. Masih ada sekolah yang guru-gurunya berlebih, namun di sekolah lainnya kekuranngan guru. Di pedesaan banyak sekolah yang kekurangan guru sementara di perlotaan guru berlebih.

  1. Pengembangan model guru kontrak.

Menurut Mendiknas, kebijakan sistem kontrak ini dilakukan karena pemerintah mengalami keterbatasan anggaran jika harus mengangkat guru dari pegawai negeri sipil (PNS).  " Kita inginkan satu pendekatan baru. Kalau pemerintah belum mampu mengangkat guru PNS, maka bisa ditempuh lewat sistem kontrak. Kita ingin mencoba hal itu," katanya.

  1. Model rekrutmen guru

Seperti kita ketahui bersama untuk menjadi guru (PNS) seseorang lulusan LPTK ikut ujian seleksi CPNS. Ujian ini (hanya) berupa ujian secara tertulis. Untuk mendapatkan guru yang pintar IQ, EQ dan SQ ujian tertulis model seleksi CPNS tersebut tentu saja tidak cukup. Orang yang memiliki masalah dalam mental (mudah emosional, tidak dapa mengendalikan diri dll) bisa saja lulus seleksi dan menjadi guru. Mereka ini yang kelak akan mencemarkan dunia pendidikan dengan menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar di kelas.

Adalah lebih baik dalam proses seleksi guru (PNS) mendatang melibatkan lembaga psikologi yang terpercaya. Dengan demikian, guru yang akhirnya lulus seleksi adalah orang yang benar-benar ingin mengabdi sebagai pengajar dan pendidik dan tidak akan menggunakan tindak kekerasan dalam proses belajar mengajar.

 

  1. Usaha meremediasi mutu guru

Dr. Abdulah Alhadza, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari dalam sebuah penelitiannya mengungkapkan bahwa pendidikan kita belum mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Sinyalemen Rektor Muhammadiyah ini tampaknya memang benar. Paling tidak ada lima indikator yang menunjukkan ketidakmampuan pendidikan Indonesia untuk menghasilkan SDM yang handal. Pertama, masalah tenaga kerja yang sering terkatung-katung. Kedua, banyaknya isu teroris. Ketiga, hasil analisis para ahli yang menyatakan Indonesia merupakan bangsa koruptor. Keempat, banyaknya generasi muda yang terlibat narkoba, judi, dan maksiat. Indikator yang kelima adalah belum tumbuhnya budaya mutu, budaya malu, dan budaya kerja yang baik.

Indikator lainnya adalah mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa yang rendah. Hal ini telah lama menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Nilai UAN yang rendah dan keabsahan nilai yang tercantum dalam Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) acapkali menjadi sorotan dalam wacana pendidikan di Indonesia

Maka dari itu remediasi mutu guru sangat diperlukan dan tampaknya sduah mendesak untuk dilakukan.

  1. Perbandingan ketersediaan guru.

 

  1. Mempertimbangkan kembali penataran guru yang kontributif terhadap  peningkatan mutu

 

VIIORIENTASI SUPERVISI

  1. Direktif  untuk guru yang drop out
  2. Non direktif untuk guru yang profesional
  3. Kolaboratif
  4. Presentasi untuk guru yang kerjanya tidak terarah
  5. Negosiasi untuk guru yang pengamat analisis

 

VIII         ORIENTASI SUPERVISI MENURUT SERGIOVANNI

Sergiovanni membagi orientasi supervisi berdasarkan tujuan yang hendak dicapai menjadi :

  1. Adminstratif dan manajerial : atasan dan bawahan
  2. Empirik (klinik) : Guru dan murid
  3. Efisiensi : Pamong (senior) dengan murid (yunior)
  4. Estetik : Kritikus dengan performer
  5. Pertumbuhan dan perkembangan : Konselor dengan konseli
  6. Hasil belajar siswa : Evaluator dengan yang dievaluasi

 

IX   PENDEKATAN

Sergiovanni (1982), mengemukakan berbagai pendekatan supervisi, antara lain (a) supervisi ilmiah (scientific supervision), (b) supervisi klinis (clinical supervision), (c) supervisi artistik, (d) integrasi di antara ketiga pendekatan tersebut.

  1. Supervisi Ilmiah

John D. McNeil (1982), menyatakan bahwa terdapat tiga pandangan mengenai supervisi ilmiah sebagai berikut :

Pertama, supervisi ilmiah dipandang sebagai kegiatan supervisi yang dipengaruhi oleh berkembangnya manajemen ilmiah dalam dunia industri. Menurut pandangan ini, kekurang berhasilan guru dalam mengajar, harus dilihat dari segi kejelasan pengaturan serta pedoman- pedoman kerja yang disusun untuk guru. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini, kegiatan mengajar harus dilandasi oleh penelitian, agar dapat dilakukan perbaikan secara tepat.

Kedua, supervisi ilmiah dipandang sebagai penerapan penelitian ilmiah dan metode pemecahan masalah secara ilmiah bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi guru di dalam mengajar. Supervisor dan guru bersama-sama mengadopsi kebiasaan eksperimen dan mencoba berbagai prosedur baru serta mengamati hasilnya dalam pembelajaran.

Ketiga, supervisi ilmiah dipandang sebagai democratic ideology. Maksudnya setiap penilaian atau judgment terhadap baik buruknya seorang guru dalam mengajar, harus didasarkan pada penelitian dan analisis statistik yang ditemukan dalam action research terhadap problem pembelajaran yang dihadapi oleh guru. Intinya supervisor dan guru harus mengumpulkan data yang cukup dan menarik kesimpulan mengenai problem pengajaran yang dihadapi guru atas dasar data yang dikumpulkan. Hal ini sebagai perwujudan terhadap ideologi demokrasi, di mana seorang guru sangat dihargai keberadaannya, serta supervisor menilai tidak atas dasar opini semata.

Keempat, pandangan tersebut tentunya sampai batas tertentu saat ini masih relevan untuk diterapkan. Pandangan bahwa guru harus memiliki pedoman yang baku dalam mengajar, perlu juga dipertimbangkan. Demikian pula pendapat bahwa guru harus dibiasakan melakukan penelitian untuk memecahkan problem mengajarnya secara ilmiah, dapat pula diadopsi. Pandangan terakhir tentunya harus menjadi landasan sikap supervisor, di mana ia harus mengacu pada data yang cukup untuk menilai dan membina guru.

  1. Supervisi Artistik

Supervisi artistik dapat dikatakan sebagai antitesa terhadap supervisi ilmiah. Supervisi ini bertolak dari pandangan bahwa mengajar, bukan semata-mata sebagai science tapi juga merupakan suatu art. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam meningkatkan kinerja mengajar guru juga harus mempertimbangkan dimensi tersebut.

Elliot W. Eisner (1982) menyatkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan supervisi artistik, ialah pendekatan yang menekankan pada sensitivitas, perceptivity, dan pengetahuan supervisor untuk mengapresiasi segala aspek yang terjadi di kelas, dan kemudian menggunakan bahasa yang ekspresif, puitis serta ada kalanya metaforik untuk mempengaruhi guru agar melakukan perubahan terhadap apa yang telah diamati di dalam kelas. Dalam supervisi ini, instrumen utamanya bukanlah alat ukur atau pedoman observasi, melainkan manusia itu sendiri yang memiliki perasaan terhadap apa yang terjadi. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan (suasana) kependidikan di sekolah.

Dari pengertian tersebut, mungkin dapat dianalogikan dengan pendekatan penelitian. Supervisi ilmiah paradigmanya identik dengan penelitian kuantitatif sementara itu supervisi artistik lebih dekat dengan pendekatan penelitian kualitatif.

  1. Supervisi Klinis

Supervisi klinis berangkat dari cara pandang kedokteran, yaitu untuk mengobati penyakit, harus terlebih dahulu diketahui apa penyakitnya. Inilah yang harus dilakukan oleh supervisor terhadap guru apabila ia hendak membantu meningkatkan kualitas pembelajaran mereka.

Supervisi klinis dilakukan melalui tahapan-tahapan: (a) pra observasi, yang berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan, (b) observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati, (c) analisis, dilakukan secara bersamasama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan, dan (d) perumusan langkah-langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan.

 

X      BEBERAPA TEMUAN PENELITIAN TENTANG  SUPERVISI

  1. USAID Indonesia : peningkatan mutu pendidikan Dasar yang terdesentralisasi.
  2. Ekosusilo (20030 :
    1. Supervisor tidak mengkomunikasikan program supervisi kepada guru
    2. Fokus supervisi hanya  terarah pada aspek administrasi, kurang menyentuh pada pengembangan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar
    3. Supervisor tidak melaksanakan kunjungan kelas secara serius
    4. Dalam pertemuan supervisor mendominasi pembicaraan
    5. Tidak ada penilaian  umpan balik terhadap kegiatan supervisi
  3. Mantja (19890 :
    1. Respon dan sikap guru terhadap supervisi ditentukan oleh kemanfaatan
    2. Data pengamatan yang obyektif
    3. Kesempatan menanggapi balikan, perhatian supervisor terhadap gagasan guru
    4. Supervisi yang teratur dan hubungan yang diciptakan dapat mengurangi ketegangan emosional guru
    5. Guru lebih menyukai pendekatan supervisi kolaboratif atau non direktif

 

XI   KESIMPULAN

Supervisi merupakan kaegiatan yang diperlukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Supervisi itu sendiri juga perlu terus ditingkatkan kualitasnya karena kalau supervisi dilakukan dengan tidak disemangati dengan tekad meningkatkan mutu pendidikan maka tidak akan memberikan dampak positif yang optimal, bahkan sebaliknyta akan memberikan respon negatif dari pihak yang disupervisi.

Sampai saat ini ternyata pelaksanaan supervisi di Indonesia masih mengalami kendala. Datangnya kendala bisa dari pihak supervisor maupun dari pihak yang disupervisi. Hal menjadi indikasi bahwa pelaksanaan supervisi harus ditata kembali sesuai dengan prinsip-prinsip supervisi.

 

 

 

Daftar pustaka

 

________. 2004. Dasar- Dasar Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sahertian, Piet A. 2000. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan: dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Soetjipto dan Raflis Kosasi. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sutisna, Oteng. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritik untuk Praktik Profesional. Bandung: Angkasa.

Mulyasa, E.. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ali, Muhammad. 2002. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

http://zizer.wordpress.com/2009/11/26/manajemen-supervisi-pendidikan-dan-pengawasan/. 6 Pebruari 2010. 03:40 wib.

http://pangkep.ning.com/forum/topics/1981915:Topic:13051. 7 Pebruari 2010; 09:11 wib

http://applikasi.wordpress.com/2008/06/06/arti-supervisi-pendidikan/ 2 Des 2009, 21:16 wib

http://re-searchengines.com/trimo70708.html. 1 Desember 2009, 10:49 wib

http://tikkysuwantikno.wordpress.com/2007/12/19/supervisi-guru/8 DESEMBER 2009. 17:21 WIB

http://guswan76.wordpress.com/2008/12/22/perbaiki-sistem-rekrutmen-guru/. 8 Pebruari 2010. 05:28 wib

http://sman1panti.wordpress.com/2007/10/20/sekolom-dari-sekolah/. 8 Pebruari 2010. 05:32 wib


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]